BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Dunia pendidikan mempunyai tantangan yang sangat berat karena di tuntut untuk dapat melahirkan manusia-manusia yang tidak hanya mampu menguasai ilmu pengetahuan umum, akan tetapi juga manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berbudi pekerti yang luhur sebagaimana tercantum dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No.20 Tahun 2003.
“Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.[1]
Untuk mewujudkan tujuan yang pertama dari tujuan Pendidikan Nasional di atas yaitu agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.Peranan seorang guru sangat penting dalam dunia pendidikan. Hal ini sesuai dengan yang diterangkan dalam undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa:
“Pendidikan merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran. Menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, dan pelatihan”.[2]
Guru yang profesional dan berpengalaman tentu
sangat mengenali dan memahami situasi dan keadaan serta kondisi kelas yang
dikelolanya.Keadaan kelas dapat berubah setiap saat, karena siswa yang
diajarkan dan dididik adalah merupakan objek yang aktif dan kreatif. Hal ini
senada dengan yang diterangkan Indra Djati dalam bukunya Menuju Masyarakat
Belajar bahwa:
“Guru tidak tampil lagi sebagai (teacher) seperti fungsinya selama ini, melainkan beralih sebagai pelatih (coach), pembimbing (conselor), dan manajer belajar (learning manager).[3]
Seorang guru sebagai
orang tua kedua harus memperhatikan pendidikan anak didiknya terutama dalam
Pendidikan adalah salah satu bagian dari
materi pendidikan yang mempunyai tanggung jawab
untuk dapat merealisasikan tujuan Pendidikan Nasional tersebut.
Mencermati berbagai hasil
penelitian tersebut, maka kondisi pelaksanaan proses belajar mengajar khususnya di sekolah saat ini dapat digambarkan belum
dilaksanakan secara optimal,
hal ini terjadi karena kondisi lingkungan yang berbeda beda, ruangan dan
peralatan yang memenuhi syarat, dana yang terbatas dan kurang terarahnya
penggunaannya, serta kemampuan dan disiplin tenaga kependidikan yang masih
perlu ditingkatkan, pengelolaan sarana dan prasarana, dana, pemanfaatan potensi
yang ada pada masyarakat baik orang tua siswa, pemerintah daerah, maupun
masyarakat lainnya.
Berdasarkan penjajakan awal yang dilakukan
penulis pada Sekolah Dasar Negeri Murung Taal Kecamatan Barabai Kabupaten Hulu
Sungai Tengah ditemukan bahwa hubungan sekolah dengan masyarakat disekitar
lingkungan sekolah tersebut cukup membantu dalam meningkatkan mutu pendidikan
dan untuk mengetahui keberadaan yang sebenarnya., maka penulis berkeinginan
mengadakan penelitian pada sekolah tersebut dengan judul “HUBUNGAN SEKOLAH DAN MASYARAKAT DISEKITAR LINGKUNGAN SEKOLAH DASAR
NEGERI MURUNG TAAL KECAMATAN BARABAI KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH”
B. FOKUS
PENELITIAN
1. Merumuskan Visi Dan Misi Sekolah
a.
Merumuskan Visi Sekolah
Visi adalah wawasan yang menjadi sumber arahan
bagi sekolah dan digunakan untuk mrmadu perumusan misi sekolah. Dengan kata
lain visi adalah pandangan jauh kedepan dimana sekolah dibawa. Visi adalah
gambaran masa depan yang diinginkan sekolah, agar sekolah yang bersangkutn
dapat menjamin kelangsungan hidup dan perkembangannya. Gambaran tersebut harus
didasarkan pada landasan yuridis, yaitu undang undang pendidikan dan sejumlah
peraturan pemerintahannya, khususnya pendidikan nasional sesuai jenjang dan
jenis sekolahnya dan juga sesuai dengan profil sekolah yang bersangkutan.
Dengan kata lain visi sekolah harus tetap dalam koridor kebijakan pendidikan
nasional tetapi sesuai dengan kebutuhan anak dan masyarakat yang dilayani.
Tujuan pendidikan nasional sama tetapi profil sekolah khususnya potensi dan
kebutuhan masyarakat yang dilayani tidak sama. Oleh karena itu sekolah
dimungkinkan memiliki visi yang tidak sama dengan sekolah lain asal tidak
keluar dari koridor nasional yaitu
tujuan pendidikan nasional.[4]
b.
Merumuskan Misi Sekolah
Misi adalah tindakan untuk mewujudkan/merealisasikan visi
tersebut. Karena visi harus mengakomodasi semua kelompok kepentingan
terkait dengan sekolah, maka misi dapat
diartikan sebagai tindakan untuk memenuhi kepentingan masing-masing kelompok
yang terkait dengan sekolah. Dalam merumuskan misi harus mempertimbangkan tugas
pokok sekolah, dalam kata lain misi adalah bentuk layanan untuk memenuhi
tuntutan yang dituangkan kedalam visi dengan berbagai indikator.[5]
2. Merumuskan
Kurikulum Sekolah
Kurikulum diartikan sebagai sejumlah mata pelajaran atau ilmu pengetahuan yang ditempuh atau
dikuasai untuk mencapai suatu tingkat tertentu atau ijazah. Disamping itu
kurikulum diartikan sebagai suatu rencana yang sengaja dirancang untuk mencapai
sejuamlah tujuan pendidikan atau yang bias disebut dengan “Rencana
Pembelajaran” yang merupakan salah satu komponen dalam asas-asas didakdik yang
harus dikuasai atau paling tidak diketahui oleh seorang guru atau calon guru.
Kurikulum ialah suatu program yang berisikan
berbagai bahan ajar dan pengalaman belajar yang diprogramkan, direncanakan, dan
dirancang secara sistematis atas dasar norma-norma yang berlaku yang dijadikan pedoman dalam proses
pembelajaran bagi tenaga kependidikan dan peserta didik untuk mencapai tujuan
pendidikan.[6]
3. Merumuskan
Program Sekolah
Aspek-aspek yang harus dikembangkan dan disusun dalam
pengembangan program sekolah minimal harus berisi:
a.
Pengembang sumber daya manusia sekolah.
b.
Sasaran/program pengembangan tenaga pendidik
(guru).
c.
Sasaran/program pengembangan kepala sekolah
(jangka pendek atau situasional).
d.
Sasaran/program pengembangan tenaga pendukung
sekolah (jangka pendek atau situasional).
e.
Sasaran/program pengembangan dan pemberdayaan
tim pengembang sekolah.
Hasil yang diharapkan adalah (1). Tercapainya peningkatan
kompetensi manajemen mutu. (2). Tercapainya peningkatan kompetensi kepribadian,
social dan keterampilan dalam berbagai bidang.(3). Tercapainya peningkatan
kompetensi dibidang komunikasi. (4). Tercapainya peningkatan kompetensi dan
profisi tenaga pendidik dalam bidang pendidikan, kurikulum dan program-program
kependidikan. Dll.
4. Bantuan
dana
Pengelolaan Keuangan Sekolah adalah kegiatan sekolah untuk
merencanakan, memperoleh, menggunakan dan mempertanggung jawabkan keuangan
sekolah kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
Sumber pembiayaan biasanya terbatas, karena itu sekolah harus
mampu meyakinkan pihak terkait terhadap pentingnya program yang memerlukan
tambahan biaya. Untuk mendapatkan keuangan sekolah:
a.
Susunan proposal untuk masing-masing program.
b.
Tentukan keperluan dana untuk setiap kegiatan.
c.
Catat/daftar sumber-sumber pembiayaan sekolah.
d.
Susunan RAPBS
e.
Gunakan format penyusunan RAPBS yang ada.[7]
Dengan adanya dana tersebut memudahkan
untuk melengkapi sarana dan prasarana sekolah.
5. Bantuan
Sarana dan Prasarana
Secara etemologis prasarana berarti alat
tidak langsung untuk mencapai tujuan. Dalam pendidikan misalnya: lokasi tempat
bangunan sekolah, lapangan olahraga dan sebagainya. Sedankan sarana adalah alat
langsung untuk mencapai tujuan pendidikan. Misalnya ruang, buku, perpustakaan,
laboraturium dan sebagainya.
Sarana disini adalah semua alat atau
sarana yang digunakan dalam belajar baik
di sekolah maupun di rumah, dengan demikian fasilitas dan prasaran yang cukup
bias mendorong siswa untuk lebih giat lagi, maka keberhasilan akan musah
dicapai oleh siswa, demikian juga tanpa fasilitas dan prasarana yang
memadai membuat siswa malas belajar.
6. Perhatian
Orang Tua Terhadap Pendidikan Anak
Pendidikan berlangsung seumur hidup yang dimulai dari pendidikan
keluarga (informal), dan pendidikan di sekolah (formal). Dalam Garis-garis
Besar Haluan Negara tahun 1988 “pendidikan merupakan proses budaya untuk
meningkatkan harkat dan martabat manusia. Pendidikan berlangsung seumur hidup
dan dilaksanakan di dalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Karena
itu pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat,
dan pemerintah”.[8]
C. TUJUAN
PENELITIAN
Adapun tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah:
1.
Mengumpulkan data tentang bagaimana hubungan
sekolah dengan masyarakat disekitar lingkungan SD Negeri Murung Taal Kecamatan
Labuan Amas Selatan Kabupaten Hulu Sungai Tengah.
2.
Untuk mengetahui tentang bagaimana hubungan
sekolah dengan masyarakat disekitar lingkungan SD Negeri Murung Taal Kecamatan
Labuan Amas Selatan Kabupaten Hulu Sungai Tengah.
D. MANFAAT
PENELITIAN
1. Bagi
Sekolah
a. Bagi siswa dapat meningkatkan
prestasi belajar, karena sekolah adalah
pendidikan formal pertama bagi
siswa.
b. Bagi guru dapat meningkatkan
aktivitasnya dalam memberikan pembelajaran, sebab aktivitas guru tidak terlepas
dari pengawasan masyarakat khususnya orang tua.
2. Bagi
Keluarga
a. Bagi keluarga mengetahui bahwa lembaga
pendidikan formal merupakan bagian tanggung jawab orang tua.
b. Bagi orang tua berhak
melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap pendidikan di masyarakat, dimana
anaknya bersekolah.
3. Bagi
Masyarakat
Bagi
masyarakat lembaga pendidikan tidak semata tanggung jawab guru di sekolah dalam
mengelola lembaga pendidikan formal.
BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA
A. MANAJEMEN SEKOLAH
Manajemen sekolah merupakan kegiatan yang memiliki nilai filosofis
tinggi yaitu harus dapat mencapai tujuan sekolah. Pada hakekatnya upaya
tersebut dilakukan untuk meningkatkan peforman/kinerja sekolah dalam mencapai
tujuan-tujuan pendidikan baik tujuan nasional maupun local institusional.
Keberhasilan pencapian tersebut akan tampak dari beberapa factor sebagai
indicator kinerja yang dicapai oleh sekolah. Kepala sekolah dituntut untuk
mampu secara maksimal melaksanakan tugas dan fungsinya dalam mengelola berbagai
aspek komponen sekolah untuk mencapai tujuan sekolah yang dirumuskan.
Kerjasama dalam penyelenggaraan sekolah itu harus dibina sehingga semua
yang terlibat dalam urusan sekolah memberikan sumbangannya secara maksimal. Kerjasama
untuk mencapai tujuan pendidikan dengan berbagai aspeknya ini dapat dipandang
sebagai manjemen pendidikan.[9]
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah manajemen yang memberikan
otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan/partisipatif
dari semua warga sekolah dan masyarakat untuk mengelola sekolah dalam rangka
meningkatkan mutu pendidikan berdasarkan pendidikan nasional.[10]
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) bertujuan untuk:
1.
Meningkatkan mutu pendidikan melaui kemandirian
dan inisiatif sekolah dalam mengelola dan memberdayakan sumberdaya yang
tersedia.
2.
Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat
dalam penyelenggaraan pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama.
3.
Meningkatkan kompetisi yang sehat antar sekolah
tentang mutu pendidikan yang akan dicapai.[11]
B. PERAN KELUARGA DALAM PENDIDIKAN
Yang dimaksud peran kkeluarga dalam pendidikan adalah
peranan orang tua siswa dalam keikutsertaan dalam mensukseskan pendidikan di
sekolah tempat anaknya bersekolah.
Sasaran pemberdayaan orang tua siswa untuk meningkatkan
dukungan dan partisipasi dalam upaya pencapaian kompetensi siswa tersebut
berupa :
1.
Penyesuaian kegiatan orang tua pada saat anak
belajar.
2.
Bantuan penyediaan fasilitas belajar, di rumah
dan di sekolah.
3.
Pemberian bantuan/bimbingan belajar.
4.
Peningkatan iklim belajar, seperti kesempatan
berkomunikasi dengan anak, pengaturan dala jam belajar
5.
Pemantauan kemajuan belajar anak.[12]
C. Peran
Masyarakat Dalam Pendidikan
Pendidikan
merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah,
diantara peran masyarakat untuk menunjang pendidikan yang berlangsung seumur
hidup dengan partisipasi masyarakat dalam peningkatan dukungan dan partisipasi
Komite Sekolah (KS) dalam memajukan sekolah, berupa :
1.
Pemberian pertimbangn (advising) dalam penentuan
pelaksanaan kebijakan pendidikan di sekolah.
2.
Pemberian dukungan (supporting) baik financial,
pemikiran, maupun tenaga dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah.
3.
Melakukan pengontrolan (controlling) dalam
rangka transparansi dan akuntabiltas penyelenggaraan pendidikan di sekolah.
4.
Mediator antara pemerintah (eksekutif) dengan
masyarakat di sekolah. [13]
D. Budaya Masyarakat
Keluarga,
masyarakat, dan pemerintah mempunyai tanggung jawab terhadap pendidikan,
sehingga budaya masyarakat pedesaan lebih kompak dalam menangani masalah
pendidikan dari pada masyarakat perkotaan yang lebih banyak mempunyai sifat
individu dari masyarakat pedesaan yang lebih menonjol dengan sifat kegoong
royongan dalam bermasyarakat dan tidak terkecuali dalam upaya meningkatkan
kualitas pendidikan terhadap masyarakat pedesaan dimana tidak tergantung adakah
orang tua mempunyai anak di sekolah tersebut atau tidak, mereka ikut
berpartisipasi meningkatkan kemajuan sekolah tersebut.
BAB
III
HASIL
PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. GAMBARAN UMUM SEKOLAH DAN LINGKUNGAN MASYARAKAT DI SD NEGERI
MURUNG TAAL
Sekolah Dasar
Negeri Murung Taal terletak di desa Murung Taal Kecamatan Labuan Amas Selatan
Kabupaten Hulu Sungai Tengah yang letaknya sebagai berikut:
1.
Sebelah utara berbatasan dengan rumah penduduk.
2.
Sebelah selatan berbatasan dengan tanah
perkebunan masyarakat.
3.
Sebelah timur
berbatasan dengan jalan raya.
4.
Sebelah barat berbatasan dengan tanah perkebunan
masyarakat.
Sekolah Dasar Negeri Murung Taal mempunyai tenaga pengajar
sebanyak 10 orang pengajar, yaitu 1 orang kepala sekolah, 6 orang guru kelas, 1
orang guru agama, 1 orang guru penjaskes, dan 1 orang guru bahasa inggris, yang
terdiri dari 6 orang laki-laki dan 4 orang perempuan.
Bangunan sekolah dibangun di atas tanah seluas ….m2 yang
terdiri dari:
1.
Kantor sekolah
2.
Ruangan kelas 1 s/d 6
3.
Mushalla
4.
Perpustakaan
5.
UKS
6.
WC guru/murid, dan
7.
Tempat parker.
B. HASIL PENELITIAN
1. Partisipasi Masyarakat Dalam
Merumuskan Visi dan Misi Sekolah
Partisipasi masyarakat dalam merumuskan visi dan misi sekolah cukup
baik, hal ini terlihat keikut sertaan masyarakat dalam komite sekolah untuk
meningkatkan kualitas pendidikan.
2. Partisipasi Masyarakat Dalam
Merumuskan Kurikulum Sekolah
Partisipasi masyarakat dalam merumuskan kurikulum sekolah tidak dilibatkan, karena kurikulum
sudah bersifat nasional, namun masyarakat disini menjadi tolak ukur dalam
memperhatikan setiap hasil dari pembelajaran yang diberikan.
3. Partisipasi Masyarakat Dalam
Merumuskan Program-program Sekolah
Partisipasi masyarakat dalam merumuskan program-program sekolah cukup
baik, hal ini terlihat keikutsertaan masyarakat dalam membuat program-program
sekolah baik jangka pendek, menengan atau pun jangka panjang.
4.
Partisipasi Masyarakat Dalam Bantuan Dana
Partisipasi
masyarakat dalam bantuan dana sekolah cukup baik, hal ini terlihat
keikutsertaan masyarakat dalam mengumpulkan dana dan sumbangan demi
pengembangan sekolah.
5. Partisipasi Masyarakat Dalam
Merumuskan Bantuan Sarana dan Prasarana
Partisipasi masyarakat dalam merumuskan bantuan sarana dan prasarana
sekolah cukup baik, hal ini terlihat keikutsertaan masyarakat dalam
mengumpulkan dana dan sumbangan untuk melengkapi sarana dan prasarana yang
diperlukan sekolah.
6.
Perhatian Orang Tua Terhadap Pendidikan Anak
Perhatian orang tua terhadap pendidikan anaknya di
SD Negeri Murung Taal sangat, baik hal ini terlihat keikutsertaan masyarakat
dalam kegiatan komite sekolah, pengumpulan dana, bimbingan serta pengawasan
orang tua terhadap belajar serta kemajuan pendidikan anaknya.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
1. Hubungan sekolah dengan masyarakat di lingkungan SD
Negeri Murung Taal cukup baik, hal ini terlihat keikut sertaan
masyarakat untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
2. Perhatian
orang tua terhadap pendidikan anaknya di SD Negeri Murung Taal sangat, baik hal
ini terlihat keikutsertaan masyarakat dalam kegiatan komite sekolah,
pengumpulan dana, bimbingan serta pengawasan orang tua terhadap belajar serta
kemajuan pendidikan anaknya.
B. SARAN
1. Hubungan sekolah dengan masyarakat di lingkungan SD
Negeri Murung Taal harus ditingkatkan kembali agar terjalin keakraban
antara pihak sekolah, guru, dan masyarakat sekitar demi terciptanya sifat
kegotong royongan.
2. Tanggung jawab pendidikan
perlu ditingkatkan lagi terutama pemerintah, pendidik, serta Perhatian orang
tua atas kemajuan pendidikan.
DAFTAR
PUSTAKA
Undang-undang
RI Nomor 20 Tahun 2003, Sistem Pendidikan Nasional, Bandung:
Citra Umbara, 2003.
Anwar Arifin, Memahami
Paradigma Baru Pendidikan Nasional dalam Undang-undang Sisdiknas, Jakarta:
Ditjen Kelembagaan Agama Islam, 2003
Indra Djati Sidi, Menuju
Masyarakat Belajar, Jakarta: paradigma, 2001.
Departemen Pendidikan
Nasional Republik Indonesia, Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah1, Jakarta, Derektorat Pendidikan Dasar
dan Menengah Direktoran Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, 2001.
H.Dakir, Perencanaan
dan Pengembangan Kurikulum, Jakarta, Rineka Cipta, 2004.
Depatemen Pendidikan
Nasional , Manajemen Berbasis Sekolah Untuk Sekolah Dasar, Jakarta, Direktorat Jenderal
Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar,
2001.
BP 7 Pusat Garis-garis
Besar Haluan Negara tahun 1988, Sekretariat Negara, Jakarta, 1991, h.
105.
B. Suryosobroto, Manajemen
Pendidikan di Sekolah, Jakarta, Rienika Cipta, 2004.
Depatemen Pendidikan Nasional
, Manajemen
Berbasis Sekolah Sekolah ,
Jakarta, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Tenaga
Kependidikan, 2003.
Departemen Pendidikan
Nasional, Pedoman Manajemen Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi,
Jakarta,, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, 2004.
Departemen Pendidikan
Nasional, Pedoman Manajemen Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi,
Jakarta,, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, 2004.
[1] Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003, Sistem Pendidikan Nasional,
( Bandung: Citra Umbara, 2003), h 4.
[2] Anwar Arifin, Memahami Paradigma Baru Pendidikan Nasional
dalam Undang-undang Sisdiknas ( Jakarta: Ditjen Kelembagaan Agama
Islam, 2003) hlm 31.
[3] Indra Djati Sidi, Menuju Masyarakat Belajar, (
Jakarta: paradigma, 2001) h 39.
[4] Departemen Pendidikan
Nasional Republik Indonesia, Manajemen Pendidikan Mutu Berbasis Sekolah 1,
Jakarta, Derektorat Pendidikan Dasar dan Menengah Direktoran Sekolah Lanjutan
Tingkat Pertama, 2001:33.
[5] Departemen Pendidikan
Nasional Republik Indonesia, Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah1, Jakarta, Derektorat Pendidikan Dasar
dan Menengah Direktoran Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, 2001:35.
[6] H.Dakir, Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum,
Jakarta, Rineka Cipta, 2004 h. 3
[7] Depatemen Pendidikan
Nasional , Manajemen Berbasis Sekolah Untuk Sekolah Dasar, Jakarta, Direktorat Jenderal
Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar,
2001, h. 26-27.
[8] BP 7 Pusat Garis-garis
Besar Haluan Negara tahun 1988, Sekretariat Negara, Jakarta, 1991, h.
105.
[9] B. Suryosobroto, Manajemen
Pendidikan di Sekolah, Jakarta, Rienika Cipta, 2004, h. 16
[10] Depatemen Pendidikan
Nasional , Manajemen Berbasis Sekolah Sekolah , Jakarta, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah
Direktorat Tenaga Kependidikan, 2003, h. 5.
[11] Depatemen Pendidikan
Nasional , Manajemen Berbasis Sekolah Sekolah , Jakarta, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah
Direktorat Tenaga Kependidikan, 2003, h. 56.
[12] Departemen Pendidikan Nasional, Pedoman
Manajemen Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi, Jakarta,,
Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, 2004, h. 10.
[13] Departemen Pendidikan Nasional, Pedoman
Manajemen Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi, Jakarta,,
Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, 2004, h. 11.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar